Damborgdreyer8's website

Our website

15
Ja
Tata Cara Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
15.01.2017 05:49


Pikir bahasa ‘Aqiqah artinya: memotong. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya sosial binatang dengan penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah merupakan nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian sebab lehernya dipotong Ada juga yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Rambut yang ditemui pada oknum si balita ketika ia keluar dari rahim ibu, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, ataupun 21. Jumlahnya 2 sudut untuk budak laki-laki dan 1 upaya untuk momongan perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Atas Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan balita perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Daripada Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bertitah: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, dipastikan sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, atas kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sempat ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi pamor dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran atas kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak bab 4, sesuatu. 264]

Tanda: Hasan & Husain adalah cucu Nabi SAW.

Daripada Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Lembut, dia mengatakan: Rasulullah bersabda: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, dan al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Menyandarkan Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lazimnya ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sebab kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai objek yang sunnah muakkadah adalah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan bersihkan darinya kotoran (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah rodi, namun tak bersifat wajib, karena tersedia sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban yaitu: “Barangsiapa di antara kalian terdapat yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, oleh sebab itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan informasi yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh pada aqiqah tersebut hewan yang picak, renyah, patah tulang, dan nyeri. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam fauna aqiqah tersebut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan pada qurban.

Buraidah berkata: Lewat kami di masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan mengotori kepalanya beserta darah kibas itu. Jadi setelah Allah mendatangkan Agama islam, kami merebahkan membantai kambing, menjatuhkan (menggundul) kepala si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud bab 3, hal. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang saat masa jahiliyah apabila meronce ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka menconteng kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur serabut si bayi mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berfirman, “Gantilah resam itu beserta minyak wangi”.[HR. Putri Hibban beserta tartib Ibnu Balban bagian 12, hal. 124]

Pelaksanaan aqiqah dari segi kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kemunculan. Hal itu berdasarkan hadits Samirah dalam mana Rasul SAW bertitah, “Seorang bani terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan tidak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak juga, maka pada hari ke-21 atau manakala saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke tujuh (tujuh) bagi dasar bujukan, maka sekiranya menyembelih dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah semua. Karena rukun ajaran Islam adalah mempermudah bukan merepoti sebagaimana firman Allah SWT: “Allah mewujudkan kemudahan bagimu dan gak menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Pelaksanaan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini bertolak pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan oleh At Tirmidzi)

Dan apabila tidak sanggup melaksanakannya di dalam hari ketujuh, maka bisa dilaksanakan dalam hari ke empat belas kasihan, dan jika tidak siap, maka saat hari di dua puluh satu, tersebut berdasarkan hadits Abdullah Putri Buraidah dari ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah itu disembelih di dalam hari ketujuh, ke 4 belas, dan ke 2 puluh mono. ” (Hadits hasan tambo Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga ahad masih tidak mampu maka kapan aja pelaksanaannya di kala telah mampu, karena pelaksanaan dalam hari-hari di tujuh, di empat belas kasihan dan ke dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama tak wajib. Dan boleh pula melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Momongan yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, lebih dari itu meskipun bocah yang kelulusan dengan tuntutan sudah berusia empat kalendar di dalam lembaga ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si bocah. Namun jika seseorang yang belum dalam sembelihkan hewan aqiqah sambil orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jikalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal ini tidak apa-apa menurut hamba, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika bukan bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika tidak bisa pula, maka di hari kedua puluh mono. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi tanggungan ayah.

Namun demikian, apabila ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia siap melakukan aqiqah sendiri pada saat mendalam. Satu begitu al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyambut, “Menurutku, bila ia belum diaqiqahi begitu kecil, maka lebih elok melakukannya sendiri saat mantap. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Dari sisi mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Jumlah Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal adalah satu termuda baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sesuai perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan & Husain satu domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Serbuk Dawud & Ibnu Al Jarud)

Aku harus mengerti bahwa Lembut dan Husain adalah anak kembar. Oleh karena itu pada mono kelahiran tersebut disembelih 2 ekor wedus.

Namun yang lebih tertinggi adalah dua ekor untuk anak laki-laki serta 1 sudut untuk budak perempuan menurut hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor kambing dan atas anak perempuan satu upaya. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor domba yang cocok dan daripada anak dara satu upaya. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan beserta sang anak

1. Disunnatkan untuk memberikan nama & mencukur rambut (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir pada hari Ahad, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang bagi anak dara 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini bahkan dibebankan terhadap orang tua si anak, tetapi boleh juga dilakukan oleh keluarga lainnya (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

http://dapoeraqiqah.com/domba-aqiqah-bandung/ Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Ataupun Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan pada kondisi sungguh dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kibas untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan fakir miskin juga bisa diberikan kepada orang non-muslim. Bahkan jika sesuatu itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya serta dalam rancangan dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi membaham orang miskin, anak yatim, dan terpidana, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada ketika itu ialah orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pun boleh memakan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Pada masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa menelaah apakah pelupuk mata atau bini, sebagaimana tambo di pangkal ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia relasi bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka bicara beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan untuk anak perempuan satu termuda kambing. Gak menyusahkanmu indah kambing ini jantan sekalipun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum mendapatkan dalil lainnya yang menampakkan adanya binatang selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Saat yang dituntunkan oleh Rasul SAW bertolak pada dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 dari kelahiran anak tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Adapun dagingnya oleh karena itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, dan mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjemput kerabat serta tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang sudah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga juga kepada umat islam, dan mampu mengundang teman2 dan suku untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Rumpun Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya dan memasaknya lantas mengundang sosok yang kamu lihat pantas diundang mulai kalangan macam, tetangga, sohib-sohib seiman dan sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, dan hal sedarah dikatakan per Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Anak

Tidak diragukan lagi jika ada siratan antara maksud sebuah pamor dengan yang diberi sebutan. Hal ini ditunjukan beserta adanya sejumlah nash syari yang menyembulkan hal ini.

Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam seri berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna tersebut diambil darinya dan serasa nama-nama itu diambil atas makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui buah nama-nama tentang yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku elakan: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Putra Al-Musayyib mengatakan: “Orang itu senantiasa bertingkah laku keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang elok untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban wali. Di antara nama-nama yang indah yang padan diberikan merupakan nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Atas Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari sisi ajaran Islam, silahkan klik:

Memberi Pamor Bayi alias Anak Berdasar pada Islami


Menyikat Rambut

Membabat rambut merupakan anjuran Nabi yang luar biasa baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru menyembul pada hari ketujuh.

Dalam hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpukau dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi nama, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menceritakan bahwa Fatimah menimbang berat rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan perak seberat sabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan beserta rata; tidak boleh cuma mencukur sekitar kepala serta sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak serat yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- semakin besar agaknya sedekahnya.

Seruan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Memiliki arti: Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) daripada Muhammad serta keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk bani ini dengan kalimat Sang pencipta Yang Simpan dari seluruh gangguan syaitan dan huru-hara binatang bersama gangguan sorotan mata yang dapat mengangkat akibat buruk bagi apa pun yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pendapat Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs mempunyai beberapa pelajaran diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim AMERIKA tatkala Yang mahakuasa SWT menutup putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di dalam aqiqah itu mengandung faktor perlindungan mulai syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir tersebut, dan ini sesuai secara makna hadits, yang artinya: “Setiap budak itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Jadi Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Allah lebih tersembunyi dari seloroh syaithan yang sering meniadakan anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sama Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai per aqiqahnya”.

3. Aqiqah yaitu tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di hari perhitungan. Sebagaimana Imam Ahmad menyebarkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat untuk kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan paham taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud mencicip syukur bagi karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menampakkan rasa gembira dalam mengusahakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkukuh ukhuwah (persaudaraan) diantara suku.

Dan sedang banyak sedang hikmah yang terkandung di dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah ini.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Bubuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Tanah al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free website powered by Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!